
Upaya Mencetak Tenaga Kerja Kompeten di Era Industri 5.0
Bisa Jaya, Jakarta – Sekretaris Jenderal Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker), Anwar Sanusi, menegaskan bahwa sinergi antara pemerintah, industri, dan perguruan tinggi menjadi faktor kunci dalam mencetak tenaga kerja yang kompeten dan siap menghadapi tantangan di era Industri 5.0.
Dalam seminar nasional memperingati Dies Natalis ke-58 Universitas Kristen Krida Wacana (Ukrida) Jakarta, Rabu (22/1/2025), Anwar menekankan bahwa Industri 5.0 bukan hanya menuntut tenaga kerja dengan keterampilan teknis, tetapi juga kemampuan adaptasi, kreativitas, serta pemahaman mendalam terhadap teknologi digital.
“Kolaborasi strategis antara pemerintah, dunia usaha, dan lembaga pendidikan tinggi sangat penting dalam membangun ekosistem tenaga kerja yang berdaya saing,” ujar Anwar.
Pendidikan Tinggi sebagai Mitra Strategis
Anwar menggarisbawahi bahwa perguruan tinggi memiliki peran sentral dalam mencetak lulusan yang siap kerja. Oleh karena itu, pengembangan kurikulum harus selaras dengan kebutuhan industri agar lulusan memiliki keterampilan yang relevan dan dapat langsung terserap di dunia kerja.
“Keterlibatan dunia usaha sangat penting untuk memastikan bahwa tenaga kerja kita memiliki pengalaman praktis yang sesuai dengan tuntutan pasar kerja global,” jelasnya.
Program Unggulan Kemnaker
Untuk meningkatkan kompetensi tenaga kerja, Kemnaker telah meluncurkan berbagai program unggulan yang berorientasi pada kebutuhan industri masa kini. Program tersebut mencakup:
- Pelatihan berbasis digital, guna meningkatkan keterampilan tenaga kerja dalam menghadapi era otomatisasi.
- Sertifikasi kompetensi, untuk memastikan tenaga kerja memiliki standar keahlian yang diakui secara nasional dan internasional.
- Penguatan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) dengan dukungan teknologi modern, sehingga dapat mencetak tenaga kerja yang lebih siap bersaing di pasar global.
Kolaborasi Lintas Sektor untuk SDM Unggul
Kemnaker juga terus memperkuat kerja sama lintas sektor melalui forum dialog, penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding), serta program kemitraan strategis dengan industri dan institusi pendidikan.
“Melalui sinergi yang erat ini, kita berharap Indonesia mampu mencetak sumber daya manusia yang unggul, inovatif, dan berdaya saing di tingkat internasional,” pungkas Anwar.